Model Contextual Teaching And Learning (CTL)
Model Contextual Teaching And
Learning (CTL)
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Anak belajar lebih baik melalui kegiatan mengalami sendiri dalam
lingkungan yang alamiah. Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada
pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan
alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika ia “mengalami” dari pada hanya
“mengetahui”. Seperti yang dituliskan banyak para ahli pendidikan, bahwa yang
pada intinya pesan itu adalah “mendengar aku lupa, melihat aku tahu,
melakkukan aku faham”.
Dengan perubahan zaman di Indonesia, maka harus berubah pula
paradigma Belajar-Mengajar di Indonesia. Jika dahulu hanya berparadigma “Dari
Tidak Tahu Menjadi Tahu” maka kini haruslah berparadigma “Dari Tahu
Menjadi Bisa”.Karena kriteria keberhasilan bukan lagi hanya ditinjau dari
sisi kognitif, namun bagaimana ia bisa menerapkan dari pengetahuan kognitif
menjadi keahlian afektif dan kinestik. Dengan
Model Pembelajaran Kontekstual diharapkan anak didik dapat mengimplementasikan
apa yang dialami (pengalaman) dapat menjadi bahan pelajaran (teori) yang dapat
menghubungkan materi yang hendak disampaikan seorang guru.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
Landasan Teori CTL?
2.
Apa
Contextual Teaching and Learning?
3.
Bagaimana
Penerapan Model Pembelajaran CTL?
4.
Apa
Peran Guru dan Siswa dalam Model Pembelajaran CTL?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui
akan Landasan dan Konsep CTL
2.
Memahami
akan Pengertian dan Hakikat CTL
3.
Mengenal
dan Dapat Melakukan Model Pembelajaran CTL
4.
Memahami
akan Peran Guru dan Siswa dalam CTL
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Landasan dan Konsep Teori CTL
Contekstual Teaching and Learning adalah
suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa
secara penuh untuk menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan
situasi kehidupan nyata sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus kita pahami.Pertama,
CTL menekankan untuk keterlibatan siswa untuk menemukan materi, dalam
artian proses belajar diorientasikan pada pengalaman siswa secara langsung.
Dalam proses ini diharapkan siswa mencari dan menemukan sendiri materi
pelajaran.
Kedua, CTL mendorong
agar siswa dapat menghubugkan antara materi pelajaran dengan situasi kehidupan
nyata, artinya siswa dituntut dapat mengetahui antara pengalaman belajar dengan
kehidupan nyata. Dengan ini materi yang dipelajari akan tertanam erat dalam
memori siswa sehingga tidak mudah dilupakan.
Ketiga, CTL mendorong
siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, artinya siswa
tidak hanya dituntut untuk memahami materi tetapi bagaimana materi tersebut
dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.Materi pelajaran dala
konteks CTL bukan untuk disimpan dalam otak kemudian dilupakan melainkan untuk
bekal dalam mengarungi kehidupan nyata.[1]
1.
Latar Belakang Filosofis
CTL banyak diperngaruhi oleh filsafat Konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark
Baldwin dan selanjutnya dikembangkan oleh Jean Piaget. Aliran filsafat
konstruksivisme berangkat dari pemikiran epistimologi Giambatista Vico
(suparno, 1997). Vico mengungkapkan: “Tuhan adalah pencipta alam semesta dan
manusia adalah tuan dari ciptaannya.” Mengetahui, menurut Vico berarti
mengetahui bagaimana membuat sesuatu. Artinya seseorang dikatakan mengetahui
manakala ia dapat menjelaskan unsur-unsur apa yang membangun sesuatu itu.
Oleh karena itu, menurutnya pengetahuan itu tidak lepas dari orang (subjek) yang
tahu.
Pengetahuan merupakan struktur konsep yang
mengamati.Selanjutnya pandangan konstruksivisme tentang hakikat pengetahuan
memengaruhi konsep tentang belajar, bahwa belajar bukanlah sekedar menghapal,
tetapi proses pengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman. Pengetahuan bukanlah hasil “pemberian” dari orang lain seperti
guru, tetapi hasil dari proses mengkonstruksi yang dilakukan setiap individu.
Pengetahuan hasil dari pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang
bermakna.[2]
2.
Latar Belakang Psikologis
Sesuai denagan filsafat yang mendasarinya bahwa pengetahuan
terbentuk karena peran aktif subjektif. Peran aktif ini dapat dipandang dari sudut
psikologis. CTL berpijak pada aliran psikologi kognitif. Menurut aliran ini,
proses belajar terjadi karena pemahaman individu mengenai lingkungan. Belajar
bukanlah peristiwa mekanis seperti emosi, minat, motivasi, dan kemampuan atau
pengalaman. Apa yang tampak pada dasarnya adalah wujud dari dorongan yang
berkembang dalam diri seseorang. Sebagai
peristiwa mental perilaku manusia tidak semata-mata merupakan gerakan fisik saja,
akan tetapi yang lebih penting adalah adanya factor pendorong yang ada di
belakang gerakan fisik tersebut. Karena, manusia memiliki kebutuhan yang
melekat dalam dirinya.Kebutuhan itulah yang mendorong manusia untuk
berperilaku.[3]
3.
Kecenderungan Pemikiran Tentang Belajar
Pendekatan konstektual mendasarkan diri pada kecenderungan
pemikiran tentang belajar sebagai berikut:[4]
a.
Proses
Belajar
Belajar tidak hanya sekedar menghapal.Siswa harua
mengkontruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.Anak belajar dari
mengalami.Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru dan
bukan diberi begitu saja oleh guru.Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang
dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam
tentang sesuatu persoalan (subject matter).manusia mempunyai tingkatan
yang berbeda dalam menyikapai sesuatu baru. Siswa
perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi
dirinya sendiri, dan bergelut dengan ide-ide.
b.
Transfer
belajar
Siswa
belajar dari mengalami sendiri buka dari pemberian dari orang lain. Ketrampilan
dan pengetahuan itu harus dikembangkan dan diperluas dari konteks yang terbatas
(sempit), sedikit demi sedkit. Penting bagi siswa untuk “Tahu Apa” ia belajar,
dan “Bagaimana” ia menggunkan pengetahuan dan ketrampilan.
c.
Siswa
sebagai pembelajar
Manusia
mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu dan seseorang anak
mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru.strategi
belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru.akan
tetapi, untuk hal hal yang suli strategi belajar amat penting.
d.
Pentingnya
lingkungan belajar
Belajar
efktif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa dari “guru
acting di depan kelas, siswa menonton” ke “siswa acting bekerja dan berkarya,
guru yang mengarahkan”. Pengajaran harus berpusat pada “bagaimana cara” siswa
menggunakan pengetahuan baru mereka. Strategi belajar lebih dipentingdibanding
hasilnya. Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses
penilaian (assessment)yang benar. Menumbuhkan komunitas belajar dalam
bentuk kerja kelompok itu penting.
B.
Pengertian Contekstual Teaching and Learning
Pengertian dan pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching
and Learning merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan konten mata
pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotovasi siswa membuat hubungan antara
pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga,
warga negara, dan tenaga kerja.
Pembelajaran kontekstual bukan merupakan suatu konsep pembelajaran
baru.Pada tahun 1916 Dewey menerapkan pembelajaran kontekstual dikelas-kelas
Amerika dan mengusulkan suatu kurikulum dan metodologi pengajaran yang
dikaitkan dengan minat dan pengalaman siswa.
Perkembangan pemahaman yang diperoleh selama mengadakan
telah pustaka menjadi semakin jelas bahwa CTL merupakan suatu perpaduan dari
banyak “praktik yang baik” dan beberapa pendekatan reformasi pendidikan yang
dimaksudkan untuk memperkaya relevansi dan penggunan fungsional pendidikan
untuk semua siswa.
Pengajaran kontekstual adalah pengajaran yang memungkinkan siswanya
untuk menguatkan, memperluas dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan
akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar sekolah
agar dapat memecahkan masalah-masalah dunia nyata atau masalah-masalah yang
disimulasikan.
Pembelajaran kontekstual terjadi apabila siswa menerapkan dan
mengalami apa yang sdeng diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalah dunia
nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggungjawab mereka sebagai anggota
keluarga, warga negara, siswa dan tenaga kerja. Pembelajaran kontekstual adalah
pembelajaran yang terjadi dalam hubungan erat dengan pengalaman sesungguhnya.[5]
1.
Elemen Belajar Yang Konstruktivistik
Menurut Zahorik
ada lima yang harus diperhatikan dalam
praktik pembelajaran kontekstual:
1)
Pengaktifan
pengetahuan yang sudah ada (Activating Knowledge).
2)
Pemerolehan
pengetahuan baru (Acquiring Knowledge) dengan cara mempelajari secara
keseluruhan dahulu,kemudian memerhatikan detainya.
3)
Pemahaman
pengetahuan pengetahuan (Understanding Knowledge), yaitu dengan cara
menyusun: konsep sementara (hipotesis), melakukan sharing kepada
orang lain agar mendapat tanggapan (validasi) dan atas dasar tanggapan
itu, konsep tersebut direvisi dan dikembangkan.
4)
Mempraktikan
pengetahuan dan pengalaman tersebut.
Melakukan
refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan
pengetahuan tersebut.[6]
2. Karakteristik CTL
Selain elemen pokok pada CTL juga memiliki
karakteristik yang membedakan denagan model pembelajaaran lainnya, yaitu: kerja
sama; salaing menunjang; menyenangkan; tidak membosankan (joyfull,
comfortable); belajar dengan bergairah; pembelajaran intregritas dan;
menggunakan berbagai sumber siswa aktif.[7]
C.
Penerapan Model Pembelajaran CTL
Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama, yaitu
konstruksivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, modeling, refleksi,
penilaian sebenarnya. Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan CTL jika menerapkan
ketujuh prinsip tersebut dalam pembelajaran. CTL dapat diterapkan dalam
kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun
keadaannya (Depdiknas, 2002). [8]
Secara garis besar langkah-langkah penerapan CTL dalam kelas
sebagai berikut:
1.
Kembangkan
pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri,
menemukan sendiri, dan mengontruksikan sendiri pengetahuan dan ketrampilan
barunya.
2.
Laksanakan
sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topic.
3.
Kembangkan
sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4.
Ciptakan
masyarakat belaja belajar (belajar kelompok-kelompok)
5.
Hadirkan
model sebagai contoh pembelajaran.
6.
Lakukan
refleksi di akhir pertemuan.
7.
Lakukan
denagan penilaian sebenarnya dengan berbagai cara.
Berikut penjelasan tujuh komponen utama.
1.
Konstruktivisme (Constructivisme)
Salah
satu landasan teoritis pendidikan modern termasuk CTL adalah teori pembelajaran
konstruktivis. Pendekatan ini pada dasarnya menekankan pentingnya siswa
membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif proses belajar
mengajar. Proses belajara mengajar lebih diwarnai student centered dari
pada teacher centered. Sebagian besar
waktu proses belajar mengajar berlangsung dengan berbasis pada aktifitas siswa.[9]
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir pendekatan
CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang
hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak
sekonyong-konyong.Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau
kaidah yang siap untuk diambil dan diingat.Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan
itu dan membari makna melalui pengalaman nyata.
Siswa
perlu dibiasakan untuk memecahkan suau permasalahan, menemukan sesuatu yang
berguna bagi dirinya, dan berhelut engan ide-ide. Guru tidak mampu memberikan
semua pengeahuan kepada siswa. Siswa harus mengkontruksikan pengetahuan di
benak mereka sendiri. Esensi dari teori kontruktivis adalah ide bahwa siswa
harus menemukan dan menstranformasikan suatu informasi kompleks ke situasi
lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri.[10]
2.
Inkuiri (Inquiri)
Menemukan
merupakan kegiatan inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL.Pengetahuan
dari ketrampilan yang diperoleh siswa bukan hasil mengingat seperangkat
fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus merancang kegiatan
yang merujuk pada kegiatan menemukan apapun materi yang diajarkan.
Siklus
inkuiri: Observation, Question, Hipotesis, Data Gathering, Conclusion. Langkah-langkah
kegiatan menemukan (Inquiry):
a.
Merumuskan
masalah.
b.
Mengamati
atau melakukan observasi.
c.
Menganalisis
dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar laporan, bagan, table, atau karya
lainnya.
d.
Mengomunikasikan
atau menyajikan hasil karya pada pambaca, teman sekelas, guru, atau audiensi
yang lain.
3.
Bertanya (Questioning)
Pengetahuan
yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari bertanya.Bertanya merupakan
strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL.Bertanya dalam pembelajaran
dipandang sebagai guru untuk mendorong, membimbing, dan mnilai kemampuan
berpikir siswa. Bagi siswa bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan
pembelajaran yang berbasis inkuiri, yaitu menggali informasi, menginformasikan
apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum
diketahui.
Dalam
sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan berguna untuk:
a.
Menggali
informasi baik administrasi maupun akademis.
b.
Mengecek
pemahaman mahasiswa.
c.
Membangkitkan
respon kepada siswa.
d.
Mengetahui
hal-hal yang sudah diketahui siswa.
e.
Mengetahui
sejauh mana keinginan tahuan siswa.
f.
Memfokuskan
perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru.
g.
Membangkitkan
lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa.
h.
Untuk
menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
4.
Masyarakat Belajar (Leraning Community)
Konsep
leraning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja
sama dengan orang lain. Hasil dari belajar diperoleh sharing antara teman,
antar kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu.
Masyarakat
belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Seorang guru
mengajar siswanya bukanlah contoh masyarakat belajar.Dalam contoh ini yang
belajar hanya siswa bukan guru. Dalam masyarakat belajar dua kelompok atau
lebih yang terlibat dalam masyarakat
belajar memberi informasi yang diperluka olehteman bicaranya dan sekaligus
meminta informasi yang diperlkan dari teman belajarnya.
Praktik
metode ini dalam pembelajaran terwujud dalam:
a.
Pembentukan
kelompok kecil
b.
Pembentukan
kelompok besar
c.
Mendatangkan
ahli ke kelas
d.
Bekerja
dengan kelas sederajat
e.
Bekerja
kelompok dengan kelas di atasnya
f.
Bekerja
dengan msayarakat
5.
Pemodelan (Modeling)
Dalam
sebuah pembelajaran ketrampilan dan pengetahuan tertentu, ada model yang bisa
ditiru. Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola
dalam olahraga, contoh karya tulis, cara melafalkan, dan sebagainya. Atau guru
memberikan contoh mengerjakan sesuatu.
Dalam pendekatan
CTL, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan
siswa. Seorang siswa bisa ditunjuk untuk memberikan contoh teman-temannya cara
melafalkan suatu kata. Contoh itu, disebut sebagai model. Siswa lain dapat
menggunakan model tersebut sebagai standar kompetensi yang harus dicapai.
6.
Refleksi (Reflection)
Refleki
adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau dipikir ke belakang
tentang apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang
baru, yang merupakan pengayaan aau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi
merupakan rspons terhadap kejadian, aktifitas atau pengetahuan baru yang
diterimanya.
Pengetahuan yang bermakana dari pross.Pengetahuan
dimiliki siswa diperluas melalui konteks pembelejaran yang kemudian diperluas
sedikit demi sedikit. Guru atau orang dewasa membanu siswa membuat
hubungan-hubungan antara pengetahuan yang memiliki sebelumnya dengan
pengetahuan yang baru. kunci dari itu semua adalah bagaimana pengetahuan itu
mengendap di benak siswa. Siswa mencatat
apa yang pernah dipelajari dan bagaimana merasakan ide-ide baru.
Pada
akhir pembelajaran, guru menyisakan waktu sejeneaka agar siswa melakukan
refleksi. Realisasinya berupa:
a.
Pernyataan
langsung apa-apa yang diperolehnya hari itu.
b.
Catatan
atau jurnal di buku siswa.
c.
Kesan
dan saran mengenai pembelajaran hari itu.
d.
Diskusi.
e.
Hasil
karya.
7.
Penilaian Autentik (Autentik Assessment)
Assessment
adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran
perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembngan belajar siswa perlu diketahui
oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan
benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa yang
mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera dapat mengambil tindakan
yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena
gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses
pembelajran, maka assessment tidak dilakukan di akhir periode pembelajaran
seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar
tetapi dilakukan bersama dengan scara terintegritas dari kegiatan pembelajaran.
Karakteristik
Authentik Assessment:
a.
Dilaksanakan
selama dan sesudah pross pembelajaran berlangsung.
b.
Bisa
digunakan untuk informative maupun sumatif.
c.
Yang
diukur ketrampilan dan performasi, bukan, mengingat fakta.
d.
Berkesinambungan.
e.
Terintegritas.
f.
Dapat
digunakan untuk sebagai feed back.[11]
D.
Peran Guru dan Siswa dalam CTL
Setiap siswa mempunyai gaya belajar yang berbeda. Perbedaan yang
dimiliki siswa tersebut oleh Bobbi Deporter (1992) dinamakan sebagai unsur modalitas belajar.
Menurutnya tiga tipe gaya belajar siswa, yaitu: tipe Visual, tipe Auditorial
dan tipe Kinestik. Dalam proses pembelajara dengan model kontekstual, setiap
guru harus memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya guru perlu menyesuaikan
gaya mengajar terhadap gaya belajar siswa. Dalam proses pembelajaran
konvensional, hal ini sering terlupakan sehingga proses pembelajaran tak
ubahnya sebagai proses pemaksaan kehendak, yang menurut Paulo Freire sebagai
system penindasan.
Sehubung dengan hal itu, terdapat beberapa hal yang harus
diperhatikan bagi setiap guru yang hendak melakukan pendekatan CTL.[12]
1.
Siswa
dalam pembelajaran kontekstual dipandang individu yang sedang berkembang.
Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan
keluasan pengalaman yang dimilikinya. Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk
kecil, melainkan organisme yang sedang berada dalam tahap-tahap perkembangan.
Kemampuan belajar akan sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan
pengalaman mereka. Denagan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur
atau “penguasa” yang memaksakan kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka bisa belajar
sesuai dengan tahap perkembangannya.
2.
Setiap
anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh
tantangan. Kegemaran anak adalah mencoba hal-hal yang dianggap aneh dan baru.
oleh karena itu belajar bagi mereka adalah mencoba memecahkan setiap persoalan
yang menantang. Dengan demikian, guru berperan dalam memiilih bahan-bahan
belajar yang dianggap penting untuk dipelajari oleh siswa.
3.
Belajar
bagi sisa adalah proses mencari keterkaitan atau ketehubungan antara hal-hal
yang baru dengan hal-hal yang sudah diketahui. Dengan demikian, peran guru
adalah membantu agar setiap siswa mampu menemukan keterkaitan antara
pengalamanbaru denan pengalaman sebelumnya.
4.
Belajar
bagi anak adalah proses menyempurnakan skema yang telah ada (asmilasi) atau
proses pembentukan skema baru (akomodasi), dengan demikian tugas guru adalah
memfasilitasi (mempermudah) agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan
proses akomodasi.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Model pembelajaran aktif tentu sangat banyak macam, salah satu
diantaranya adalah kontektual teaching and learning, yang asas landasannya
adalah kontruktivisme yang di kembangkan oleh para ahli pendidikan.
CTL adalah model pembelajaran yang dimana actionnya berpusat pada
student centered. Peran seorang guru lebih banyak sebagai pembimbing,
mengarahkan dan menjadi sebagai penengah dari kegiatan belajar.Dengan beberapa
landasa, menjadikan CTL paa dewasa ini, sanagat diminati dan sering dilakukan
oleh para guru dalam hal model pembelajaran.
Dengan tetap memperhatikan pada karakter, tujuan serta
langkah-langkah dalam menerapkan model ini, diharapakan dapat mengubah bagaiman
cara belajar-mengajar serta hasil dari belajarnya.
B.
Saran
Dari pembahasan diatas, telah kita pahami akan pentingnya cara
bagaimana kita mengajar, mendidik anak didik kita. Untuk realita sekarang, akan
lebih baiknya jika terus mencari akan bagaimana cara untuk dapat mencapai
tujuan kita dalam pendidikan. Seperti paradigm yang telah menjadi pedoman kita
“ dari tahu menjadi bisa”.
Dalam penulisan makalah ini tentu jauh dari kata sempurna, meski
sudah berusaha dengan harapan hasil yang optimal. Oleh karena itu, dengan
lapang dada akan saran dan kritik untu kemajuan kami dalam penulisan ilmiah. Kami
yang telah menyandang title mahasiswa yang sudah selayaknya untuk terus
memperbaiki diri, dari sisi akademik maupun non akademik.Dan semoga usaha ini
bermanfaat bagi kita semua. Amin.
DAFTAR
PUSTAKA
Trianto.(2010). Mendesain Model
Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana
Sanjaya, Wina. (2010). Strategi
Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.Jakarta: Kencana
Riyanto, Yatim.
(2010). Paradigma Baru Pembelajaran.Jakarta: Kencana
Junaedi, dkk.(2008). Strategi
Pembelajaran.Learning Assistance Program for Islamic Schools
[1]
Wina Sanjaya. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Pendidikan. (Jakarta: Kencana, 2010), h. 255
[2]Ibid., h. 257
[3]Junaedi, dkk. Strategi Pembelajaran “Learning
Assistance Program for Islamic Schools”. (......2008), h....
Comments
Post a Comment